Example floating
Example floating
Nasional

Kisah Adela Djamhur: Konsistensi Sang Musisi dan Nakhoda ACME Jakarta Mengarungi Industri Musik Dua Era

130
×

Kisah Adela Djamhur: Konsistensi Sang Musisi dan Nakhoda ACME Jakarta Mengarungi Industri Musik Dua Era

Sebarkan artikel ini
IMG 20260601 WA0050

​Kisah Adela Djamhur: Konsistensi Sang Musisi dan Nakhoda ACME Jakarta Mengarungi Industri Musik Dua Era
​JAKARTA – Menjaga eksistensi di industri hiburan tanah air selama puluhan tahun bukanlah perkara mudah. Namun, bagi Ade Rosmalawati Djamhur—atau yang lebih akrab disapa Adela Djamhur—musik bukan sekadar profesi, melainkan dunia yang ia hidupi. Sebagai pemilik tunggal Adela Cancera Music Entertainment (ACME) Jakarta, Adela telah membuktikan bahwa dedikasi dan adaptabilitas adalah kunci utama untuk terus berkarya.
​Perempuan yang kini berdomisili di Ciputat, Tangerang Selatan, dan memiliki rumah singgah di Pondok Pinang, Jakarta Selatan ini, mengawali langkah besarnya di dunia musik sejak era 90-an.
​Awal Mula dan Jejak Prestasi
​Bakat Adela sudah terendus sejak usia remaja. Pada tahun 1996, ia sukses membawa band pelajarnya, APATIS BAND, bersinar di Festival Ancol Band Pelajar dengan menyabet gelar Top 3 Vokalis Terbaik. Setahun sebelumnya, tepatnya pada 1995, Adela bersama Lucky Maraz (yang kemudian menjadi suaminya pada tahun 1997) sudah aktif mengisi panggung hiburan akustik di pembukaan foodcourt Mall Mangga Besar, Jakarta.
​Hijrah dan Menaklukkan Panggung Sumbawa
​Setelah menikah, Adela memutuskan hijrah ke Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat (NTB). Di tanah kelahiran suaminya tersebut, gairah bermusik Adela tidak meredup. Bersama Lucky, ia mendirikan TRAY BAND.
​Melalui grup ini, mereka mewarnai transisi musik lokal dan menggebrak panggung cadas tanah Sumbawa. Kerja keras mereka membuahkan hasil pada Festival Band Rock Sumbawa tahun 2001, di mana TRAY BAND berhasil meraih Juara 3, dan Adela sukses dinobatkan sebagai Juara 1 Vokalis Rock Terbaik. Prestasi ini mengukuhkan posisi mereka sebagai duo musisi yang disegani di NTB.
​Menembus Ibu Kota dan Kelahiran ACME Jakarta
​Perjalanan hidup membawa Adela dan Lucky kembali bertolak ke Jakarta. Periode 2010 hingga 2016 menjadi saksi bisu produktivitas mereka di panggung-panggung komersial ibu kota dan sekitarnya. Mereka dipercaya mengisi kontrak jangka panjang di berbagai tempat strategis, antara lain:
​Foodcourt Cinere Mall, Depok (4 tahun)
​Waroeng Keroncong, Pondok Labu (3 tahun)
​Foodcourt Matahari Cilandak (2 tahun)
​Blok M Plaza Lantai 7 (1 tahun)
​Resto Bale Bengong, Jakarta Timur (1 tahun)
​Jauh sebelum itu, tepatnya pada tahun 2008 saat masih bolak-balik Jakarta–Sumbawa, mereka mendirikan bendera manajemen SAMBAVA Musik Entertainment yang berpusat di Sumbawa Besar. Manajemen duet ini berjalan solid hingga tahun 2013.
​Namun, Adela juga bergerak mandiri. Sejak tahun 2008, ia mendirikan dan memimpin sendiri ADELA CANCERA MUSIK ENTERTAINT (ACME) Jakarta. Ketika SAMBAVA Musik berakhir, ACME Jakarta tetap berdiri tegak di bawah komando tunggal Adela hingga saat ini.
​Jiwa Entrepreneur dan Warisan Masa Depan
​Tidak hanya piawai di atas panggung, Adela juga melebarkan sayapnya sebagai pengusaha dan Event Organizer (EO). Jiwa entrepreneur-nya terlihat nyata saat ia sukses mengelola berbagai gelaran musik di Restoran Waroeng Lengkong, Serpong Utara, Tangerang Selatan.
​Melewati asam garam industri musik dan berbagai fase kehidupan, Adela memiliki filosofi hidup yang kuat:
​”Keberadaan diri kita di dunia ini tergantung bagaimana cara kita menghidupkan dunia kita, dan kuasailah dunia itu.” — Adela Djamhur
​Bagi Adela, ACME Jakarta adalah warisan hidupnya. Ia menaruh optimisme besar agar bendera ACME Jakarta yang telah ia bangun dengan cucuran keringat dan air mata, akan tetap eksis, berkibar, dan menghibur masyarakat luas, bahkan hingga masanya telah usai nanti.

Penulis : Kerry

Tinggalkan Balasan

2