Example floating
Example floating
Kota Depok

HALAL BI HALAL & PASKAH 2026 melalui Diskusi Kebangsaan bertajuk “Menakar Toleransi Bangsa” yang digelar di Kapel GBI Maranatha Cinere

146
×

HALAL BI HALAL & PASKAH 2026 melalui Diskusi Kebangsaan bertajuk “Menakar Toleransi Bangsa” yang digelar di Kapel GBI Maranatha Cinere

Sebarkan artikel ini
IMG 20260516 WA0022 1

Depok, wartahariannews.com – Di tengah meningkatnya tantangan sosial kebangsaan, polarisasi di ruang digital, serta dinamika geopolitik global yang turut memengaruhi stabilitas kehidupan masyarakat, semangat merawat toleransi dan persatuan bangsa kembali digaungkan dalam acara HALAL BI HALAL & PASKAH 2026 melalui Diskusi Kebangsaan bertajuk “Menakar Toleransi Bangsa” yang digelar di Kapel GBI Maranatha Cinere, Jalan Bukit Cinere No. 66 Gandul, Cinere, Jumat (15/05/2026).

 

IMG 20260516 WA0021 1

IMG 20260516 WA0051

IMG 20260516 WA0019

Kegiatan yang diselenggarakan oleh PIN Meratih bersama GPdPI tersebut berlangsung hangat, cair, namun sarat gagasan strategis mengenai masa depan toleransi Indonesia di tengah perubahan zaman yang semakin kompleks. Forum ini mempertemukan tokoh lintas agama, akademisi, aktivis sosial, pemimpin gereja, hingga pegiat kebangsaan dalam satu ruang dialog yang menekankan pentingnya menjaga keutuhan bangsa di tengah keberagaman.

Keynote Speaker H. Gugun Gumilar, MA., Ph.D, yang juga merupakan Staf Khusus Menteri Agama RI, tidak dapat hadir secara langsung karena tengah menjalankan tugas khusus kenegaraan. Kendati demikian, pemaparannya tetap disampaikan melalui tayangan video. Dalam penyampaiannya, ia menegaskan bahwa toleransi Indonesia saat ini menghadapi tantangan baru yang jauh lebih kompleks dibanding era sebelumnya, terutama akibat masifnya arus informasi digital, politik identitas, serta meningkatnya penyebaran narasi kebencian di media sosial.

Menurutnya, moderasi beragama dan penguatan nilai kebangsaan tidak lagi cukup hanya menjadi slogan seremonial, melainkan harus diwujudkan melalui budaya dialog, pendidikan karakter, serta kolaborasi lintas elemen masyarakat.

Diskusi kebangsaan tersebut turut menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Dr. KH. Ahmad Solechan, M.Si, Pdt. Didi S Natha, Dennis Firmansyah, MM, Dr. KH. Akhmad Sunhaji, M.Pdi, dan JB Djoko Suhono, S.Pd., MM. Para pembicara menyoroti berbagai isu strategis, mulai dari tantangan menjaga harmoni sosial di era digital, ancaman disinformasi dan radikalisme berbasis media sosial, hingga pentingnya memperkuat literasi kebangsaan bagi generasi muda.

 

 

Sementara itu, sesi penanggap menghadirkan sejumlah tokoh lintas latar belakang, yakni Ps. Steven Hutabarat, SE., MPM, Dr. Mohamad Zuhdi, MA, Drs. Eusabius Binasi, Ir. R. Widaryanto,  Binton Nadadap( Anggota DPRD Dari PSI)
Dan tambah Bp Pdt Hendra Manalu, M.Th.ketua okk Pin meratih. dengan moderator Drs. Epraim Sembiring, M.Th.

Acara ini juga turut dihadiri oleh unsur Pemerintah Kota Depok yang diwakili oleh  Dr. Dudi Mi’raz Imaduddin, M.Si, selaku Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Depok. Kehadiran pemerintah daerah dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat sinergi antara tokoh agama, masyarakat, dan pemerintah dalam menjaga stabilitas sosial serta merawat kehidupan kebangsaan yang harmonis di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.

Forum diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai pandangan kritis mengenai kondisi toleransi Indonesia saat ini. Salah satu sorotan utama adalah bagaimana masyarakat Indonesia perlu semakin waspada terhadap upaya-upaya adu domba berbasis identitas yang kini tidak hanya terjadi melalui ruang politik konvensional, tetapi juga melalui algoritma media sosial dan perang opini digital yang masif.

Selain itu, para pembicara juga menekankan bahwa Indonesia memiliki modal sosial dan budaya yang sangat kuat dalam menjaga persatuan bangsa. Karena itu, dialog lintas agama dan ruang-ruang kebangsaan seperti ini dinilai penting untuk terus diperkuat sebagai benteng moral dan sosial dalam menghadapi tantangan global yang terus berkembang.

Acara berlangsung penuh keakraban dan semangat persaudaraan, sekaligus menjadi pengingat bahwa toleransi bukan sekadar wacana, melainkan fondasi utama dalam menjaga masa depan Indonesia sebagai bangsa yang majemuk, damai, dan beradab.

 

(Christin)

Tinggalkan Balasan