Example floating
Example floating
Kota Depok

Legislator dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan PSI Menghadirkan buku Sistem Politik Indonesia Sebagai Kontribusi Intelektual , Kesadaran, dan Daya Guna Perpolitikan di Kota Depok

67
×

Legislator dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan PSI Menghadirkan buku Sistem Politik Indonesia Sebagai Kontribusi Intelektual , Kesadaran, dan Daya Guna Perpolitikan di Kota Depok

Sebarkan artikel ini
Screenshot 2026 03 01 12 59 04 06 40deb401b9ffe8e1df2f1cc5ba480b12

 

 

Ketua badan kehormatan DPRD Kota Depok Qonita Luthfiah berupaya memperkuat kualitas demokrasi melalui jalur literasi politik digelorakan,  Legislator dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini menghadirkan buku Perempuan dalam Sistem Politik Indonesia sebagai kontribusi intelektual untuk meningkatkan kapasitas, kesadaran, dan daya tawar perempuan di panggung politik.
Buku tersebut lahir dari refleksi panjang atas realitas keterwakilan perempuan yang dinilai masih kerap terjebak pada pemenuhan angka kuota semata. Qonita menegaskan, kehadiran perempuan di ruang kekuasaan harus dibarengi kompetensi, integritas, serta pemahaman mendalam terhadap sistem politik.

 

Merutnya perempuan perlu memahami sistem politik secara komprehensif, mulai dari legislasi, fungsi pengawasan, hingga etika jabatan. Dengan begitu, perempuan tidak hanya hadir secara administratif, tetapi benar-benar menentukan arah kebijakan,” ujarnya, Kamis (26/2/2026).
Sebagai Ketua BK DPRD, Qonita memiliki pengalaman langsung dalam menjaga marwah, disiplin, dan etika anggota dewan. Perspektif tersebut memperkaya isi bukunya, terutama dalam menekankan bahwa demokrasi yang sehat bertumpu pada akuntabilitas, moralitas, dan kepentingan publik.

 

Qonita Dalam karyanya bukunya,  mengulas struktur sistem politik Indonesia, peran partai dalam kaderisasi, hingga tantangan kultural yang masih membayangi perempuan, seperti stereotip gender dan keterbatasan akses pendidikan politik. Literasi, menurutnya, menjadi fondasi utama lahirnya kepemimpinan yang berintegritas dan responsif.
Qonita juga mendorong budaya membaca dan menulis sebagai gerakan kolektif. Baginya, literasi bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan jalan membangun kesadaran kebangsaan.
Gemar membaca dan menulis akan melahirkan pemimpin yang berpikir jernih dan bertindak bijak. Dari literasi tumbuh kesadaran, dan dari kesadaran lahir tanggung jawab,” tuturnya.

Qonita menilai perempuan memiliki pendekatan yang cenderung humanis, dialogis, dan solutif. Ketika kapasitas intelektual berpadu dengan nilai empati, kebijakan publik diyakini akan lebih berpihak kepada kelompok rentan dan berorientasi jangka panjang.
Selain menyoroti perempuan sebagai calon pemimpin, ia juga menekankan peran strategis perempuan sebagai pemilih. Dengan jumlah yang dominan dalam daftar pemilih, perempuan memiliki posisi kunci dalam menentukan arah demokrasi

 

Begitu juga Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) DPRD Kota Depok, St. Binton Nadapdap, menilai inisiatif penulisan buku tersebut sebagai langkah strategis membangun peradaban politik yang sehat dan berkeadilan gender.
Menurutnya, politik tidak boleh kehilangan empati dan perspektif keadilan. Perempuan harus ditempatkan sebagai subjek utama dalam proses pengambilan keputusan, bukan sekadar objek kebijakan.

Kedua Dewan ini sepakat, mengatakan  demokrasi yang kokoh hanya dapat tumbuh melalui kepemimpinan inklusif yang menjunjung integritas dan etika. Melalui buku ini, mereka berharap lahir generasi perempuan yang berani, berpengetahuan, dan memiliki komitmen kebangsaan kuat—serta mampu menghadirkan kebijakan publik yang adil dan responsif bagi seluruh lapisan masyarakat, dan berguna bagi masyarakat luas tuturnya

 

 

(Christin)